livre de la vie

Ask me anything   Submit   Makhluk melankolis . mencoba menjadi manusia.

twitter.com/yuginastiti:

    Kamu bukan nabi, jadi tak usahlah bicara tentang ketulusan.

    Mari kita buktikan, siapa yang tidak lagi punya otak dan jiwa yang masih berpapasan.

    Saya akan lawan.  Saya akan lawan siapapun yang ingin melawan.

    Kamu mungkin punya kata-kata setajam jeruji dan emas setinggi gunung yang sayangnya kamu gak bisa daki. 

    Jadi, seperti itu ya rasanya?

    Menjaga sesuatu berharga yang kamu tidak bisa punya, padahal ia ada didepan matamu.

    Tinggal satu langkah saja, kamu akan gila. 

    — 1 week ago
    "

    Orang jadi goblok, terlalu banyak diobok-obok. Orang jadi pembohong, terlalu banyak dicekokin berita bodong. Orang jadi gila, kebanyakan dibelai-belai sama harta. Orang jadi tolol, kebanyakan baca buku dodol. Orang jadi ngamuk, kebanyakan dianggap seperti nyamuk. Orang jadi keji, kebanyakannya gak pake hati. Orang jadi bisu, punya mata tertutup mulu.

    dasar goblok. iya, kamu goblok.

    "
    — 1 week ago

    Mengapa perasaan menjadi penting pada sebuah perlakuan.

    Sebuah ilustrasi : tegakah kamu menghardik ibumu dan menyebutnya sakit jiwa? Ibumu itu bukan menderita schizophrenia. Ia hanya seorang wanita tua yang tidak lagi bisa berjalan dan tidak bisa berbicara. Ia hanya bisa berteriak mengeluarkan apa yang menjadi duka masa lalunya dan tak terlontarkan selama puluhan tahun. Duka yang tercipta karena harapannya yang tidak lagi sesuai dengan kenyataannya. Duka yang diciptakan oleh anaknya sendiri.

    Tegakah kamu menyebutnya gila dan orang yang menyebalkan sedang kamu diberinya makan sejak kamu belum bisa melakukan apapun? Bahkan untuk membawanya ke rumah sakit pun kamu enggan. 

    Setakut itukah kamu? Setakut itukah kamu membayar apa yang menjadi hak ibumu? Setakut itukah kamu untuk menurunkan keangkuhanmu? Sejauh itukah kenyataan membawamu ke dunia yang tak lagi orang tahu? 

    — 1 week ago
    beingindonesian:

Houses of Bajou People, Halmahera, North Maluku, Indonesia.
(by miurak3)

    beingindonesian:

    Houses of Bajou People, Halmahera, North Maluku, Indonesia.

    (by miurak3)

    — 1 week ago with 25 notes
    Sebuah kedai

    Percayakah kamu kalau suatu tempat itu bisa memiliki jiwa dan bernyawa? Itu terserah saja. Tapi, aku percaya.

    Hari ini aku pergi ke sebuah tempat yang agak jauh dari kota. Sebuah kedai yang hanya menyediakan sedikit menu untuk dinikmati oleh pengunjungnya. Sebuah kedai yang tak banyak orang tahu keberadaannya.

    Begitu memasuki halamannya, kamu akan disambut oleh dua pohon pinus dan rumput hijau. Kalau kamu mendatanginya di sore hari, dan memilih tempat duduk di dekat pohon pinus itu, kamu bisa melihat bagaimana sinar matahari yang perlahan meredup dari celah kedua pohon itu. Indah sekali.

    Lalu, kamu bisa berselancar di dunia maya. Atau, bercerita sampai kamu gila sambil menikmati chi tea yang rasa-rasanya hanya pembuatnya dan Tuhan yang tahu apa resepnya sehingga rasanya begitu menjalar higga ke otakmu. 

    Tempat ini sepertinya tidak menyediakan musik, sehingga kamu harus menciptakan musikmu sendiri. 

    Sambil bercerita, kamu mungkin akan sedikit merasa gatal-gatal di kakimu. Maklum, di tempat ini nyamuknya tumbuh dengan sempurna dan sehat serta bahagia. Tapi, tenang, saya menemukan obat nyamuk bakar bekas berwarna ungu dibawah mejanya yang seringkali justru mati sebelum ia habis terbakar. 

    Tidak akan ada pelayan yang mendatangimu jika kamu mau memesan makanan atau minuman. Kamu yang harus mendatangi mereka. Ketika kamu akan memesan makanan, kamu tidak akan begitu memperhatikan apa yang ada di sekitar meja kasir yang merangkap sebagai meja pemesanan makanan. Tapi, ketika kamu akan membayar, kamu akan menunggu sedikit lama karena pelayannya kesulitan untuk mencari uang kembalian. Dan pada saat itulah, kamu bisa melihat bahwa ada barang yang bernyawa. 

    Kalau kamu mengira barang-barang bernyawa itu adalah keris, pedang, ataupun benda klenik lainnya, kamu salah. Benda-benda itu adalah telepon bekas entah dari tahun berapa, album foto yang berisi foto-foto pengunjung kedai, kalender dengan tulisan arab, poster kopi dari pabrik kopi tahun 1920-an, dan dari mushola yang hanya berkapasitas untuk satu orang, kamu bisa melihat dua monitor komputer bekas. Lalu, merunduklah sedikit dan lihatlah ke kanan meja kasir. Kamu akan melihat buku-buku yang sudah menguning atau bahkan coklat warna kertasnya, yang aku yakin aroma buku itu sudah sangat khas. 

    Bagaimana kedai yang sederhana ini bisa memiliki jiwa? Kedai ini tidak melupakan sejarah dan semua unsur yang mejadikan wujudnya. Kedai ini tidak kehilangan akarnya. Kedai ini bertahan dengan idealismenya. Kedai ini menghargai setiap senti dari keberadaannya. Kedai ini tidak mati dari sejak lama. Kedai ini bahkan tampak seperti rumah yang bisa membuat pengunjungnya nyaman bertahan berjam-jam walau dengan gempuran nyamuk dan kucing yang melihatimu makan. Kedai ini punya prinsip yang kuat, yang membuat saya berpikir dan malu.

    Malu, karena seringkali saya melupakan masa lalu dan seringkali mengikuti hal yang baru tanpa saya tahu. Tempat ini bisa membuat saya berpikir keras tanpa ia harus mengucapkan kata-kata. Dan saya rasa, ia bernyawa.

    — 2 weeks ago
    tanpa judul

    Dari semua yang membutuhkan maaf darimu, yang utama adalah dirimu sendiri.

    Maafkanlah dirimu, janganlah lagi kau menggerutuinya.

    Ia telah letih menuruti kemauanmu yang terbukti belum mendamaikan dan menyejahterakannya.

    Teruskan hidupmu sebgai pribadi yang kembali polos dan ikhlas bersikap dan bekerja yang memantaskanmu bagi rezeki yang baik.

    Teruskanlah hidupmu sebagai sebaik-baiknya jiwa.

    — 2 weeks ago
    Sajak Sebatang Lisong

    Sajak Sebatang Lisong oleh W. S. Rendra

    Menghisap sebatang lisong

    melihat Indonesia Raya,

    mendengar 130 juta rakyat,

    dan di langit dua tiga cukong mengangkang,

    berak di atas kepala mereka

    Matahari terbit.

    Fajar tiba.

    Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan.

    Aku bertanya,

    tetapi pertanyaanku membenturi meja-meja kekuasaan yang macet,

    dan papantulis-papantulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan.

    Delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang,

    tanpa pilihan,

    tanpa pepohonan,

    tanpa dangau persinggahan,

    tanpa ada bayangan ujungnya.

    Menghisap udara yang disemprot deodorant,

    aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya;

    aku melihat wanita-wanita bunting antri uang pensiun.

    Dan di langit; para teknokrat berkata :

    bahwa bangsa kita adalah bangsa yang malas,

    bahwa bangsa mesti dibangun;

    mesti diup-grade disesuaikan dengan teknologi yang diimpor Gunung-gunung menjulang.

    Langit pesta warna di dalam senjakala

    Dan aku melihat protes yang terpendam,

    terhimpit di bawah tilam.

    Aku bertanya,

    tetapi pertanyaanku membentur jidat para penyair salon,

    yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

    sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

    Bunga-bunga bangsa tahun depan berkunang-kunang pandang matanya,

    di bawah iklan berlampu neon,

    Berjuta-juta harapan ibu dan bapak menjadi gemalau suara yang kacau,

    menjadi karang di bawah muka samodra.

    Kita harus mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.

    Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,

    tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.

    Kita mesti keluar ke jalan raya,

    keluar ke desa-desa,

    menghayati sendiri semua gejala,

    dan menghayati persoalan yang nyata.

    Inilah sajakku Pamplet masa darurat.

    Apalah artinya renda-renda kesenian,

    bila terpisah dari derita lingkungan.

    Apakah artinya berpikir,

    bila terpisah dari masalah kehidupan.

    Kepadamu, aku bertanya!

    19 Agustus 1977 ITB Bandung (Diambil dari film Yang Muda Yang Bercinta 1977)

    — 2 weeks ago
    "Ketika semuanya harus berteriak, memangnya saya juga harus ikut berkoar juga?"
    — 2 weeks ago
    Bicara semesta

    Terkadang semesta memiliki caranya sendiri untuk berbicara, yang tak satu manusia pun tahu. Semesta bekerja sendiri. Ia tak pernah mengingkari apa pun dan siapa pun.

    Lalu mengapa aku harus berpikir bahwa dunia tidak adil?

    Dan mengapa aku harus berpikir bahwa semesta berkonspirasi untuk menjatuhkanku?

    Dan bagaimana aku bisa berpikir tentang semua ini?

    Jika semua hal tentang dunia harus menjadi sebuah eksistensi, mengapa aku, si manusia harus sibuk mengingkari semua keberadaan ini?

    — 2 weeks ago
    Cerita segelas kopi

    Kurasa yang kuinginkan saat ini adalah berjarak sepuluh senti darimu. Menonton televisi dan siaran bodohnya, kamu seperti biasa meminum kopi panas dan aku lebih memilih untuk meminum teh tubruk dan makan semua makanan manis yang kita sukai. Tertawa seperti kita tertawa untuk terakhir kalinya dan pada akhirnya terlelap di kursi malas dengan selimut tebal. 

    Aku tidak peduli dengan apapun untuk saat ini. Malam hanya menyajikan jejak 15 derajat celcius saat aku menuliskan kata-kata ini, dan seperti tidak seperti biasa aku menahannya dengan secangkir kopi hitam, yang menurutmu sebenarnya tak layak untuk diminum oleh seorang perempuan. tapi untuk saat ini aku tidak peduli, karena aku tak ingin menjadi perempuan saat ini. 

    sejak 240 hari yang lalu, aku tak lagi menjadi orbit. aku hanya ingin menjadi benda kosmis yang berputar pada orbit. seperti itulah aku mengilhami semua ini. 

    jika aku bersedia untuk tak lagi menjadi pusat segala perputaran ini, lalu seperti apa  nanti?

    — 1 month ago